Peristiwa yang mencoreng nama baik anggota DPR muncul lagi ke permukaan. Kali Max Moein dari Fraksi PDI Perjuangan, Max Moein ternyata pernah dilaporkan ke Badan Kehormatan (BK) DPR karena dugaan pelecehan seksual. Adalah Raden Ayu Desi Fridianti yang menjadi korban kali ini, dia sempat melaporkan masalah ini pada 22 Agustus 2007 melalui LBH Apik untuk kemudian diproses ke Badan Kehormatan. Saya sendiri tidak heran apabila BK tidak merespon masalah ini, saya sendiri baru dengan perihal BK ini, dan saya tebak pengaruh BK sama sekali tidak ada. BK hanya semacam formalitas struktur organisasi di DPR sana. Pada tanggal 22 November 2007, surat kedua kembali ditujukan kepada BK, tetapi lagi-lagi tidak ada respon. Kerja anggota BK apa kabar yahh ? Haloooooo….
Desi mengalami suatu fase yang tidak mudah, dia mengalami pelecehan seksual oleh atasannya sendiri, Desi sendiri memegang jabatan sebagai sekretaris Max Moein periode Maret 2005 sampai Maret 2006. Max Moein juga berkelit, Desi kabarnya dipecat karena mencuri laptop dan printer yang padahal barang-barang itu sendiri diberikan Max Moein kepada Desi dengan tujuan belajar dan meminjam uang dari office boy sebesar 500 ribu. Desy diwakili oleh kedua kuasa hukumnya, Sri Nurherawati dan Ruhut Sitompul. DPR juga harus memperbaiki mekanisme perekrutan staff agar menjadi transparan dan profesional. Ketidakmampuan akan dua hal diatas, dapat memicu terjadinya hal-hal yang tidak diinginkan.
Tenang Pak Max, Anda tidak sendirian. Anggota Komisi VII DPR Jaka Aryadipa Singgih yang juga berasal dari Fraksi PDIP juga tersangkut masalah. JA dilaporkan ke Polda Metro Jaya pada tanggal 18 April 2008 dengan perihal perampasan dengan kekerasan. Masalah ini muncul saat JA hendak meninggalkan gedung Darma Bumi Harmoni dengan cara mengendarai mobil melewati jalur yang berlawanan menuju pintu masuk. Beberapa petugas berusaha memberi penjelasan bahwa hal itu tidak boleh dilakukan, tetapi JA kemudian marah-marah dengan mengeluarkan kata-kata makian sambil turun dari kendaraannya. Dani, yang berprofesi sebagai satpam gedung, mengambil handycam untuk merekam kejadian itu sebagai barang bukti, sesuai dengan prosedur keamanan gedung. Namun, JA merampas handycam tersebut, Dani berusaha merebut kembali, tetapi dia dihalang-halangi oleh kedua pengawal JA. Akibatnya gaji Dani dipotong sebagai kompensasi pindah tangannya handycam ke tangan orang lain. Menurut Okky, Koordinator Keamanan gedung itu, JA sudah berkali-kali melanggar peraturan, melawan arus keluar dan tidak membayar parkir.
Sungguh memalukan tindakan JA, hal kecil itulah yang sebenarnya paling mudah ditaati, saya sendiri jadi mempertanyakan kinerja JA, kalau soal kecil saja bisa berantakan, apalagi hal besar, semisal menangani rakyat? Wakil rakyat yang sungguh tidak patut dicontoh, perlu diingat karena rakyatlah Anda dipilih menjadi anggota DPR, kalau partai Anda tidak mendapat suara bagaimana mungkin Anda dapat duduk di kursi “panas” DPR. Bagi PDIP sudah tentu ini adalah tamparan bolak-balik, menjelang Pemilu 2009 situasi politik semakin memanas. Banyak hal-hal yang terduga bisa saja dimunculkan untuk menjatuhkan pihak-pihak tertentu. PDIP harus memperhatikan image mereka, menyeleksi dan menertibkan anggotannya secara profesional, jangan sampai gara-gara sekolompok orang, image PDIP yang diusung oleh Megawati runtuh perlahan-lahan.
Jangan mentang-mentang Anda semua anggota DPR bisa berbuat sesuka hati, ingat kekuatan rakyat dan mahasiswa yang bisa melengserkan kekuasaan pemerintah pada Mei 1998. Anda adalah representasi dari aspirasi rakyat, kelakuan Anda sama sekali tidak mencerminkannya. Ingat, siapa menanam dia sendiri yang menuai hasilnya.
Referensi : -http://cetak.kompas.com/read/xml/2008/04/20/01141263 -http://www.detiknews.com/index.php/detik.read/tahun/2008/bulan/05/tgl/28/time/145724/idnews/946467/idkanal/10
Alex 5:20 pm on August 26, 2008 Permalink |
dasar bajingan anggota DPR kita ini!!